"Kaka... aku ingin curhat.." pinta adik kecilku yang masih duduk di kelas SD kelas 6.
"Iyaa Dik, mau curhat apa?" Tanyaku sambil tetap fokus memandang layar komputerku.
"Tapi Kaka jangan marahi aku ya?" Harapnya.
"Iya cantik, Kaka ngga marah. Emang mau curhat apa kok bisa bikin Kaka marah" kulirik sebentar wajahnya, dan tampak kesedihan yang mendalam di wajahnya.
"Bener yaa Kaka ngga marah, janji?"
"Iya Adikku cantikkkkk...." Godaku
"Kaka.. emang kalo kita punya cowok, terus beberapa hari ini dia tidak pernah ngubungi kita lagi berarti dia selingkuh gitu?" Adikku langsung menunduk dan spontan aku teriak..
"WHAAAAAATTT?" Lantas aku memegang kepalanya dan memandangi wajah polosnya. Tak tampak ekspresi takut, malah kesedihan yang ku dapati di wajah imutnya.
"Kok kamu nanya gitu sayang? Siapa yang nyuruh?" Selidikku
"Aku sendiri Kaka. Aku ngga ada yang nyuruh. Aku pengen tau. Sebab banyak teman-teman yang bilang kaya gitu. Aku jadi penasaran" Jelasnya
"Owalaah... kok kamu bisa nanya seperti itu ke Kaka?"
"Sebab cowokku sekarang kaya gitu kak....." jawabnya pelan sambil menunduk
"Whhhaaaaaatttttt? Kamu udah punya cowok?"
"Iya Kaka..." Ia pun tersenyum malu-malu
Aku lantas geleng-geleng kepala. Berpikir bahwa adikku masih kelas 6 SD, tapi ia sudah memiliki seorang kekasih.
Normalkah ini?
Aku terdiam. Teringat masa kecilku dulu saat seusianya. Memang dulu pun kehidupan masa-masa kecilku di bumbui rasa suka menyukai terhadap lawan jenis. Maklum, mungkin karena memang itulah masanya usia kita jelang remaja alias puber. Tapi saat ini, yang ga habis aku pikir adalah kenapa Adikku bisa berpikir bahwa cowoknya saat ini sedang selingkuh? Anak seusianya sudah ke arah sana berpikirnya. Siapa yang mengajarkanya? Dapat informasi dari mana dia?
Aku geleng-geleng kepala. Tak ku gubris panggilan Adikku berulang-ulang. Aku terdiam. Terpikirkan kisah cinta monyet Adikku hingga aku di tepuk olehnya.
"Kok Kaka malah diam? bener ngga Kak kalo cowok kaya gitu berarti dia sedang selingkuh?"
Aku masih diam dan segera meminum sisa juice jambuku. Aku bingung menjawabnya. Adikku tampak kesal menunggu jawaban. Tak lama, ia pun beranjak pergi dan meninggalkanku yang sedang binfung sendiri.
Rabu, 28 Januari 2015
Selasa, 27 Januari 2015
Bangun Tidur Lalu.....
Bangun tidur malam itu, enaknya langsung ke kamar mandi. Ambil wudhu lalu sholat, dzikir dan berdoa plus baca Quran. Dijamin ketenangan jiwa dan raga menyelimuti.
Selanjutnya, segera ambil buku dan pulpen lalu mulailah berselancar di lembaran-lembaran kertas putih untuk menuangkan ide dan kreatifitas menulis. Berdendanglah dalam lembar itu. Buatlah gerakan erotis pada pulpen sehingga menghasilkan karya yang penuh rasa. Jangan berhenti sebelun kumandang adzan terdengar. Menarilah dan terus bergoyang mengikuti loncatan-loncatan liar alam pikiran.
Aku menangis, teriak sekencang-kencangnya. Berharap pertolongan segera datang. Tapi apa daya, semua orang ku lihat sibuk dengan sendirinya. Menjaga keselamatan masing-masing. Aku semakin lemah. Air bah ini menguras seluruh tenagaku. Hanya pohon jambu ini menjadi peganganku sekarang. Aku kembali menangis kencang.
Pegangan tanganku mulai melemah. Mulutku kini tak lagi mengeluarkan erangan kesedihan. Ku pasrahkan semuanya kepada sang Pemilik alam. Aku bersenandung pujian kepada-Nya plus ampunan. Astagfirullahal 'adziim-Subhanallah-WalHamdulillah-Walaailaaha illallahu wallahu akbar. Aku pasrah mendapati serangan air yang semakin deras menerpa tubuh ringkih ini.
Tak lama kemudian, cengkraman jari-jari tanganku mengendur dan akhirnya terlepas dari tubuh kokoh pohon jambu. Aku terhempas. Terombang ambing oleh kekuatan air yang menyeretku entah ke mana. Semakin lama dadaku sesak. Perlahan tatapan mataku mulai memudar. Semua tampak samar. Pikiranpun mulai kosong hingga aku tak sadarkan diri berada di tempat antah berantah saat mata terbuka secara perlahan. Nanti.
Itulah goyangan erotis pulpenku pagi ini. Aku bahagia bisa nulis. Aku senang pagi ini bisa berbagi tulisan walau ga jelas apa tema dan maksud tulisannya. Yang penting, aku sudah mengolah rasa dan melatih nulis. Sungguh aku bahagia.
Adzan datang
Tolong hentikan
Sementara
Menghadaplah kembali pada Tuhan
Memohon semua yang dibutuhkan
Segera
Selanjutnya, segera ambil buku dan pulpen lalu mulailah berselancar di lembaran-lembaran kertas putih untuk menuangkan ide dan kreatifitas menulis. Berdendanglah dalam lembar itu. Buatlah gerakan erotis pada pulpen sehingga menghasilkan karya yang penuh rasa. Jangan berhenti sebelun kumandang adzan terdengar. Menarilah dan terus bergoyang mengikuti loncatan-loncatan liar alam pikiran.
Aku menangis, teriak sekencang-kencangnya. Berharap pertolongan segera datang. Tapi apa daya, semua orang ku lihat sibuk dengan sendirinya. Menjaga keselamatan masing-masing. Aku semakin lemah. Air bah ini menguras seluruh tenagaku. Hanya pohon jambu ini menjadi peganganku sekarang. Aku kembali menangis kencang.
Pegangan tanganku mulai melemah. Mulutku kini tak lagi mengeluarkan erangan kesedihan. Ku pasrahkan semuanya kepada sang Pemilik alam. Aku bersenandung pujian kepada-Nya plus ampunan. Astagfirullahal 'adziim-Subhanallah-WalHamdulillah-Walaailaaha illallahu wallahu akbar. Aku pasrah mendapati serangan air yang semakin deras menerpa tubuh ringkih ini.
Tak lama kemudian, cengkraman jari-jari tanganku mengendur dan akhirnya terlepas dari tubuh kokoh pohon jambu. Aku terhempas. Terombang ambing oleh kekuatan air yang menyeretku entah ke mana. Semakin lama dadaku sesak. Perlahan tatapan mataku mulai memudar. Semua tampak samar. Pikiranpun mulai kosong hingga aku tak sadarkan diri berada di tempat antah berantah saat mata terbuka secara perlahan. Nanti.
Itulah goyangan erotis pulpenku pagi ini. Aku bahagia bisa nulis. Aku senang pagi ini bisa berbagi tulisan walau ga jelas apa tema dan maksud tulisannya. Yang penting, aku sudah mengolah rasa dan melatih nulis. Sungguh aku bahagia.
Adzan datang
Tolong hentikan
Sementara
Menghadaplah kembali pada Tuhan
Memohon semua yang dibutuhkan
Segera
Langganan:
Postingan (Atom)